Selasa, 29 November 2016

HARI SIAL

*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi saw bersabda :
قال الله عز وجل : يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر بيدي الأمر أقلب الليل والنهار
“Allah azza wajalla berfirman : “Anak adam (manusia) menyakiti Aku, mereka mencaci masa, padahal Akulah (pemilik) masa, Akulah yang menjadikan malam dan siang silih berganti”. [HR Bukhari]

_Catatan Alvers_

Banyak orang ketika tertimpa sesuatu yang tidak mengenakkan maka ia berujar “dasar, hari sial!”. Ujaran seperti ini ternyata sudah ada sejak zaman jahiliyah. Imam An-Nawawi mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan ’Ya khaybatad dahr’ : Duhai  sialnya waktu ini dan ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu. [Syarh Shahih Muslim] atau perkataan “ Bu’san Lid Dahr, Tabban Liddahr [Fathul Bari]

Orang yang menyalahkan waktu tatkala terjadi hal yang buruk menimpanya sama halnya ia mengkambing-hitamkan waktu dan ia lari dari kesalahan yang diperbuatnya sendiri. Tipe orang demikian tidak akan mengambil hikmah dari apa yang terjadi, karena ia tidak instropeksi diri namun malah mencari pembenaran dan ini adalah perilaku negatif.

Mengapa tidak boleh mencela dan menyalahkan waktu atas peristiwa buruk yang terjadi? Pertanyaan ini dijawab dalam hadits utama tadi “Allahlah yang mengatur masa”. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah SWT. Ia menuduh Allah tidak cakap mengatur waktu sehingga ada waktu (hari) yang mendatangkan celaka.

Lantas bagaimana dengan pernyataan “Hari Nahas” yang ada dalam Al-Qur’an? Menjawab pertanyaan ini al-Khatthabi berkata : Tidak terjadi kontradiksi antara hadits ini (larangan mencela masa) dengan firman Allah :
إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ
“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus”. [QS Al-Qamar : 19]

Karena kesialan (hari nahas) dalam ayat ini ditujukan kepada Kuffar kaum ‘Ad bukan kepada harinya (waktu). Maka sudah maklum, jika kesialan itu hanya menimpa orang kuffar kaum ‘Ad saja dan hari itu justru menjadi hari pertolongan dan dukungan kepada kaum Mukminin. [Fathul Bari]

Perilaku mencela masa tertentu telah terjadi pada masa jahiliyah. Banyak orang saat itu meyakini bahwa bulan Shafar adalah bulan sial atau bala bencana. Kepercayaan ini bermula dari anggapan bahwa bulan Shafar merupakan bulan yang penuh bencana dan musibah, sehingga mereka menunda segala aktivitas karena takut tertimpa bencana. Untuk menolak kepercayaan salah seperti ini maka sebagian ulama menamakan bulan shafar dengan nama “Shafarul Khair” yang berarti bulan Shafar yang penuh kebaikan.

Rasul SAW sejak dahulu sudah menolak keyakinan yang keliru seperti ini. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :
لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر
"Tidak ada “adwa” penularan penyakit, tidak diperbolehkan “tiyarah” meramalkan adanya hal-hal buruk, tidak boleh “hammah” berprasangka buruk dan tidak ada keburukan dalam bulan Shafar." [HR Bukhari Muslim]

Dalam hadits ini, Rasul bersabda : “Walaa Shafara” yang arti lettelijk nya “tidak ada bulan Shafar. Asyhab berkata: Malik suatu saat ditanya mengenai hadits ini maka beliau menjawab :
سَمِعْتُ أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ يَسْتَشْئِمُونَ بِصَفَرٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَفَرَ
Aku mendengar bahwa orang-orang jahiliyah menganggap sial dengan bulan shafar maka Nabi SAW bersabda demikian. [HR Abu Daud]

Jadi menurut ajaran Islam, semua bulan dan hari itu baik, masing-masing mempunyai sejarah, keistimewaan dan peristiwa sendiri-sendiri. Jika bulan tertentu seperti bulan Ramadlan memiliki keistimewaan dengan adanya peristiwa Nuzul al-Qur'an dan Lailat al Qadar, dan bulan Rajab ada Isra' dan Mi'raj serta bulan Rabi'ul Awwal ada peristiwa Maulid Rasulullah SAW bukan berarti bulan yang lain merupakan bulan yang buruk. Jikalau ada peristiwa yang memilukan dalam sebuah bulan, itu bukan berarti bulan tersebut merupakan bulan musibah yang penuh kesialan. Namun itu semua mestinya lebih mendorong kepercayaan kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk dan kita tidak mengaitkannya dengan kesialan suatu hari atau bulan tertentu.

Tidak hanya bulan shafar, Orang-orang Jahiliyah juga meyakini bulan Syawal sebagai bulan wabah penyakit karena pernah terjadi banyak orang mati pada bulan syawal khususnya dari kalangan pasangan pengantin pada bulan itu, dan beberapa pasangan tidak memiliki keturunan. Maka sejak itu Alvers, mereka tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal karena terkena musibah. Keyakinan seperti ini ditentang Nabi Muhammad SAW. Sayyidah Aisyah RA berkata:
تزوجني رسول الله صلى الله عليه وسلم في شوال وبنى بي في شوال فأي نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم كان أحظى عنده مني
"Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal, berkumpul (membina rumah tangga) dengan saya pada bulan Syawal, maka siapakah dari isteri beliau yang lebih beruntung daripada saya?"  [HR Muslim]

Al-Imam Ibn Hajar al-Haitami berpendapat dalam kitabnya Fatawa Al-Haditsiyah jika ada orang mempercayai adanya hari nahas (sial) dengan tujuan berpaling darinya atau menghindarkan suatu pekerjaan pada hari tersebut dan menganggapnya terdapat kesialan,
وَأَن ذَلِك من سنة الْيَهُود لَا من هدي الْمُسلمين المتوكلين على خالقهم وبارئهم الَّذين لَا يحسبون وعَلى رَبهم يَتَوَكَّلُونَ،
maka sesungguhnya yang demikian ini termasuk tradisi kaum Yahudi dan bukan sunnah kaum muslimin yang selalu tawakkal kepada Allah dan tidak berprasangka buruk terhadap Allah. Sedangkan jika ada riwayat yang menyebutkan tentang hari yang harus dihindari karena mengandung kesialan, maka riwayat tersebut adalah bathil, tidak benar, mengandung kebohongan dan tidak mempunyai sandaran dalil yang jelas, untuk itu jauhilah riwayat seperti ini. [Fatawa Al Haditsiyah]

Jadi kesimpulannya alvers, bahwa dalam ajaran islam semua hari adalah baik, dan masing-masing ada keutamaan tersendiri maka hari di mana kita menjaganya dan mengisinya dengan kebaikan dan ketaatan itulah hari yang sangat menggembirakan bahkan menjadi hari raya buat kita. Seperti dikatakan oleh Sayyidina Ali KW :
وكل يومٍ لانعصي الله فيه فهو لنا عيد
setiap hari dimana aku tidak bermaksiat kepada Allah pada hari itu, itulah hari rayaku.[Ihya Ulumuddin]

Dan sebaliknya alvers, kesialan kita sesungguhnya adalah hari dimana kita melalaikan kewajiban bahwa melakukan maksiat kepada sang khaliq Allah swt. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menjadikan setiap hari dari sisa umur kita bernilai karena ketaatan kita dan keberkahanNya.

Minggu, 27 November 2016

DELAPAN KARAKTER MANUSIA MENURUT ALLOH SWT.

Karakter manusia dapat dilihat dari "dengan siapa mereka bergaul", dikutib Dari Kitab Tanbihul Ghofilien :

يقال من جلس مع ثمانية أصناف من الناس زاده الله ثمانية أشياء ؛
من جلس مع اﻷغنياء زاده الله حب الدنيا. ومن جلس مع الفقراء زاده الله الشكر والرضا. ومن جلس مع السلطان زاده الله الكبر وقساوة القلب. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوه. ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح. ومن جلس مع الفساق زاده الله الجرأة على الذنوب . ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات. ومن جلس مع العلماء زاده الله العلم والورع.

Barangsiapa yang bergaul bersama 8 golongan manusia, maka Allah SWT akan menumbuhkan 8 karakter untuknya :

1. من جلس مع الأغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها.

1. Barangsiapa bergaul dengan orang kaya, Allah akan menambahkan kecintaan duniawi dan orientasi hidup keduniawian.

2. ومن جلس مع الفقراء زاده الله الشكر والرضا بقسمة الله تعالى

2. Barangsiapa bergaul dengan orang-orang faqir, Allah akan menambahkan rasa syukur dan ridhonya terhadap karunia Allah.

3. ومن جلس مع السلطان زاده الله الكبر وقساوة القلب

3. Barangsiapa bergaul dengan para pejabat tinggi, Allah akan menambahkan rasa sombong dan keras hati.

4. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوه

4. Barangsiapa bergaul dengan perempuan, Allah akan menambahkan kebodohan dan syahwat.

5. ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح

5. Barangsiapa bergaul dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahkan lalai dan senda gurau.

6. ومن جلس مع الفساق زاده الله الجرأة على الذنوب والمعاصي والإقدام عليها،والتسويف في التوبة

6. Barangsiapa bergaul dengan orang-orang fasik, Allah akan menambahkan keberanian terhadap dosa dan maksiat, serta bergairah untuk maksiat sambil menunda taubat.

7. ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات

7. Barangsiapa bergaul dengan orang-orang shalih, Allah akan menambahkan orientasi hidupnya kepada ketaatan

8. ومن جلس مع العلماء زاده العلم والورع

8. Barangsiapa bergaul dengan ulama’, Allah akan menambahkan ilmu dan kehati-hatiannya.

Mudah2an bermanfaat untuk dijadikan referensi dalam memilih Dan memilah teman dalam pergaulan..
Semoga Bermanfaat..

JALANI HIDUP SELALU CERIA



Rasulullah merasa heran dengan orang muslim, mereka hidup selalu ceria penuh kebaikan karena 2 hal: Sabar dan Syukur.
Ketika mendapat nikmat mereka bersyukur maka Allah menambah nikmatnya dan menjadikan nikmat tersebut sebuah kebaikan (pahala), dan ketika Allah memberi cobaan (musibah) mereka bersabar, maka allah membalasnya dengan nikmat dikemudian hari dan menjadikannya sebagai penghapus dari dosa-dosa yang pernah dilakukannya.
Bukan kah hal tersebut luar biasa jika kita pikirkan, orang muslim menjalani hidup selalu ceria dan penuh kebaikan dengan melakukan 2 hal tersebut, bahkan ketika mereka mendapat cobaan (musibah) mereka bersabar dan dapat ceria karena mereka sadar cobaan itu adalah penghapus dosa baginya, cobaan tersebut juga pasti karena dia berbuat salah, dan sadarlah bahwa semua yang kita miliki sebenarnya milik Allah jadi ketika ada musibah yang menimpa dia tidak bimbang karena apa yang hilang memang bukan miliknya.
لايكلف الله نفسا إلا وسعها  (سورة البقرة – الاية 286) 
Allah telah menyatakan dalam ayat tersebut, bahwa Allah SWT tidak menguji hambanya diluar batas kemampuannya, percayalah apa yang kau hadapi kau bisa mengatasinya, Allah percaya kalau kita salah satu hambanya yang kuat, jagalah kepercayaan tersebut, jangan mudah putus asa dan kalah dengan bsisikan setan yang ingin melemahkan kita yang sudah allah beri kepercayaan bahwa kita kuat.
            Rasulullah SAW bersabda: إن اشد البلاء الأنبياء ثم الذين يلونهم والذين يلونهم
paling berat cobaan (yang allah beri) adalah kepada nabi, kemudian kepada mereka yang mengikuti para nabi dan seterusnya”.
Pernah kita berpikiri akan hal tersebut, sadarkah kita bahwa cobaan terberat dialami oleh para nabi kemudian para sahabat kemudian yang mengikuti para sahabat dan seterusnya. Kenapa demikian, hal tersebut karena cobaan sebenarnya adalah bahwa allah mencintai kita (bukan kah kita jika mencintai seseorang kita juga akan mengujinya agar kita tahu apakah cintanya tulus dan benar-benar, bahkan kita akan mengujinya tidak hanya sekali, tapi kita akan mengujinya kembali dengan hal yang lebih berat), dan karena cobaan dari Allah apabila kita sabar, hal tersebut dapat menghapus dosa kita dan meningkatkan derajat kita di akhirat kelak.
            Setiap yang Allah takdirkan pasti ada hikmahnya, yakinlah Rahasia Tuhan itu ada dan lebih indah dari apa yang kita inginkan.