Senin, 11 November 2019

Bacaan agar makanan menjadi sehat

Maulid selalu makan malam takut  sakit? (RESEPI WIRID) AGAR MAKANAN TIDAK MEMBAHAYAKAN TUBUH

Didalam kitab "Kaifa Takunu Ghaniyyan" Hal ; 36 dijelaskan, bahwasannya Al-Habib Sa'ad Muhammad Bin Alawi Al-Aydrus ra. berkata:

«سورة (قريش) من قرأها زال همه وحزنه ووسوسته، ومن قرأها على مطعوم أذهب الله مضرته

Barang siapa yang membaca Surat Quraisy, maka akan hilang kesusahan dan rasa was² nya. Dan barang siapa yang membacanya pada makanan, maka Allah SWT akan menghilangkan mudharat nya (pada tubuh)" Catatan : Seringkali kita dihantui rasa cemas dan takut setiap ada orang yang menghidangkan makanan pada kita. Mau minum kopi, khawatir maag kumat. Mau makan gulai kambing, khawatir darah tinggi kambuh. Mau minum yang manis², khawatir kencing manis. Mau minum yang pahit², takut nyerang ke liver. Maka bacalah surat tersebut. InsyaAlloh aman.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
ِلِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (١) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (٢) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ (٣) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (٤)

Rabu, 03 Juli 2019

Jasa Besar Pejuang Kebenaran, Wajib Disyukuri bukan dimusuhi !

Oleh : Muhammad Hanif Alathas, Lc.

Al-Imam Ibnul Arobi al-Maliki menyatakan bahwa Amar Makruf Nahi Munkar adalah salah satu misi utama dari diutusnya para Nabi (Faidhul Qodir 5/522), karenanya al-Imam al-Mawardi menerangkan bahwa para Ulama generasi salaf turun tangan secara langsung untuk menegakkan Amar Makruf Nahi Munkar lantaran manfaatnya yang meluas dan pahalanya yang sangat besar (al-Ahkam as-Sulthoniyyah 373 ).

Lembaran sejarah begitu banyak memuat gambaran ketegasan para ulama lintas generasi dalam menegakkan Amar Makruf Nahi Munkar. Diantaranya seorang Ulama dari Dzuriyyah Rosulullah saw, yaitu al-Imam al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib al-Athos yang di makamkan di pemakaman Sapuro, Pekalongan, Jawa Tengah.

Kisah ketegasan beliau dalam menyuarakan kebenaran sangatlah Masyhur dan selalu dibacakan dalam haul beliau yang diadakan setiap pertengahan bulan Sya'ban, sehingga tidak ada kemunkaran apapun yang nampak di hadapannya  atau terdengar olehnya kecuali beliau lawan kemunkaran itu tanpa pandang bulu. Tak peduli siapa yang beliau hadapi, mulai dari rakyat jelata sampai Pejabat Pribumi bahkan Penguasa Belanda yang saat itu berkuasa di tanah Jawa. Beliau tak menghiraukan resiko apapun yang menghadang, karena yang beliau harapkan hanya Ridho Allah swt.

Alhabib al-Arif billah Ali bin Husein Alathas yang dikenal dengan Habib Ali Bungur  dalam kitabnya Tajul A'roos ( 2/ 318) menceritakan dari al-Habib al-Arif Billah Alwi bin Muhammad bin Thohir al-Haddad ( Empang, Bogor)  bahwasanya al-Habib al-Imam Muhammad bin Idrus al-Habsyi ( Yang dimakamkan di Ampel, Surabaya ) sangat menyanjung keberanian dan ketegasan al-Habib al-Imam Ahmad bin Abdullah bin Tholib al-Athos dalam menegakkan Amar Makruf Nahi Munkar, dalam sebuah kesempatan Beliau mengatakan :

الحمد لله على وجوده بين ظهرانينا فإن ذلك مما يدل على بركة عصرنا و إنه لم يتودع منا.

" Puji Syukur Bagi Allah atas keberadaan Habib Ahmad al-Athas di tengah-tengah kita, karena hal tersebut menandakan adanya keberkahan pada zaman ini,  dan Allah tidak meninggalkan kita "

Al-Habib Alwi al-Haddad (Empang Bogor) menjelaskan bahwa  dalam ungkapan di atas Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi mengisyaratkan kepada Sabda Nabi saw :

إذا  رأيت أمتي تهاب فلا تقول للظالم يا ظالم فقد تودع منهم ( أخرجه الحاكم في المستدرك و صححه الذهبي )

" Jika Ummatku sungkan utk mengatakan kepada orang dholim : HEI DZHOLIM !!! maka Ummat ini telah ditinggalkan "

Dalam kitabnya Faidhul Qodir, al-Hafidz al-Munawi menjelaskan bahwa maksud dari Sabda Nabi saw bahwa ummatnya telah ditinggalkan (فقد تودع منهم) adalah  diamnya Ummat Terhadap Kedholiman menyebabkan Keberadaan mereka tiada artinya, bahkan mereka dihinakan Oleh Allah, Kedzholiman dan kemunkaran itu dibiarkan terus terjadi sehingga mereka akan mendapat hukuman dari Allah swt naudzubillah min dzalik.

Karenanya, Keberadaan para Ulama Istiqomah  yang tetap lantang menyuarakan Haq itu Haq dan Bathil itu Bathil, WAJIB disyukuri oleh Ummat. Mereka berani mengambil resiko dicaci, dimaki, diancam, di-intimidasi, dipenjara bahkan dibunuh, demi KEMASLAHATAN UMMAT.

  Mereka tidak mencari harta atau tahta, andai mereka menginginkan harta dan tahta maka diamnya mereka akan membuat mereka berlimpah harta dan memangku tahta. Nyatanya, mereka menolak harta dan tahta, memilih jalan yang penuh resiko dan lika liku demi menyuarakan kebenaran semata-mata mengharapkan ridho Allah dan keselamatan Ummat.

Mereka adalah ASET BESAR UMMAT, keberadaan mereka menjadi penyebab turunnya rahmat dan tanda masih adanya keberkahan ditengah-tengah kita.

Oleh karena itu, silahkan Ulama dan Umat Islam berjuang dengan jalan pilihannya masing-masing, selama masih dalam koridor Syariat. karena banyak jalan menuju Mekkah, alias banyak cara berjuang menuju Ridho Allah. Namun, kita WAJIB menjaga dan  mendukung perjuangan mereka yang menegakkan Amar Makruf Nahi Munkar serta berjuang melawan kedzholiman, jika tidak mau mendukung secara langsung, minimal sisipkan mereka dalam setiap Munajat. Jangan malah menari mengikuti irama gendang orang-orang dzholim dengan membenci, memusuhi dan mencaci para pejuang kebenaran. Padahal disadari atau tidak, Ummat punya HUTANG JASA  besar kepada mereka !!!

Semoga Allah kumpulkan kita bersama Para Ulama dan Pejuang pembela kebenaran di dunia dan Akhirat. Amiiin.

Rabu, 05 Juni 2019

Tanya-jawab seputar puasa sunnah syawal dan qodho

PUASA SUNNAH SYAWAL : HARUSKAH BERURUTAN? BOLEHKAH DIGABUNG NIATNYA DENGAN PUASA QODHO?

Puasa sunnah Syawal selama 6 (enam) hari adalah termasuk sunnah yang dikukuhkan. Enam  hari itu bisa secara berurutan dan juga boleh dipisah – pisah yang penting puasa itu dilakukan di bulan Syawal. Adapun bagi seseorang yang pernah punya hutang puasa seperti wanita haid, jika ingin mengqodho maka tidak diperkenankan menggabung antara niat qodo dengan puasa Syawal. Akan tetapi jika ia melakukan  puasa qodho dengan niat qodho bertepatan di hari Syawal secara otomatis ia akan mendapatkan pahala puasa di bulan Syawal. Jadi cara niatnya cukup niat puasa qodho saja dan disaat itu ia mendapatkan pahalanya puasa Syawal.

Maka dihimbau bagi wanita atau siapapun yang mempunyai hutang puasa hendaknya diqodho di bulan Syawal agar mendapatkan pahalanya Syawal sekaligus. Tapi ingat niatnya tetap niat mengqodho saja. Adapun  jika puasa Syawal digabung dengan puasa sunnah yang lainnya adalah boleh.  Bagi orang yang tidak punya hutang ingin menggabung antara puasa Syawal dengan puasa Senin adalah bagus. Misalnya : “ Saya niat puasa Senin digabung dengan niat puasa Syawal…” atau “ puasa Kamis dengan puasa Syawal.. “ atau “ puasa Daud dengan puasa Syawal..” adalah boleh.  Semoga Allah menjadikan kita ahli ibadah dan semoga Allah menerima amal kita. Wallahu a’lam bisshowab

Senin, 03 Juni 2019

Dalil Ayat dan Hadits wajib menutup aurat rambut

الآيات التي تتعلق بالحجاب :


1. قال تعالى : ( وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ) النور/31


2. وقال تعالى : ( وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لا يَرْجُونَ نِكَاحاً فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ) النور/60 .


والقواعد : هن اللاتي تقدَّم بهن السن فقعدن عن الحيض والحمل ويئسن من الولد . وسيأتي من كلام حفصة بنت سيرين وجه الاستدلال بهذه الآية .


3. وقال تعالى : ( يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً ) الأحزاب/59


4. وقال تعالى : ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعاً فَاسْأَلوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَداً إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيماً ) الأحزاب/53


أما الأحاديث :


1. عن صفية بنت شيبة أن عائشة رضي الله عنها كانت تقول : لما نزلت هذه الآية ( وليضربن بخمرهن على جيوبهن ) أخذن أُزُرَهن (نوع من الثياب) فشققنها من قبل الحواشي فاختمرن بها . رواه البخاري ( 4481 ) ، وأبو داود ( 4102 ) بلفظ :


" يرحم الله نساء المهاجرات الأول لما أنزل الله وليضربن بخمرهن على جيوبهن شققن أكثف مروطهن (نوع من الثياب) فاختمرن بها " . أي غطين وجوههن .


قال الشيخ محمد الأمين الشنقيطي - رحمه الله تعالى - :


وهذا الحديث صريح في النساء الصحابيات المذكورات فيه ، فهمن أن معنى قوله تعالى : وليضربن بخمرهن على جيوبهن يقتضي ستر وجوههن ، وأنهن شققن أزرهن فاختمرن أي : سترن وجوههن بها امتثالا لأمر الله في قوله تعالي : وليضربن بخمرهن على جيوبهن المقتضي ستر الوجه ، وبهذا يتحقق المنصف : أن احتجاب المرأة عن الرجال وسترها وجهها عنهم ثابت في السنة الصحيحة المفسرة لكتاب الله تعالى ، وقد أثنت عائشة رضى الله عنها على تلك النساء بمسارعتهن لامتثال أوامر الله في كتابه ، ومعلوم أنهن ما فهمن ستر الوجوه من قوله وليضربن بخمرهن على جيوبهن إلا من النبي صلى الله عليه وسلم لأنه موجود وهن يسألنه عن كل ما أشكل عليهن في دينهن ، والله جل وعلا يقول : ( وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ) فلا يمكن أن يفسرنَها من تلقاء أنفسهن .


وقال ابن حجر في " فتح الباري " : ولابن أبي حاتم من طريق عبد الله بن عثمان بن خيثم عن صفية ما يوضح ذلك ولفظه : " ذكرنا عند عائشة نساء قريش وفضلهن فقالت : " إن نساء قريش لفضلاء ، ولكنى والله ما رأيت أفضل من نساء الأنصار : أشد تصديقا بكتاب الله ولا إيمانا بالتنزيل ، لقد أنزلت سورة النور وليضربن بخمرهن على جيوبهن فانقلب رجالهن إليهن يتلون عليهن ما أنزل فيها ، ما منهن امرأة إلا قامت إلى مرطها فأصبحن يصلين معتجرات كأن على رؤوسهن الغربان " كما جاء موضحاً في رواية البخاري المذكورة آنفاً ، فترى عائشة رضى الله عنها مع علمها وفهمها وتقواها ، أثنت عليهن هذا الثناء العظيم ، وصرحت بأنها ما رأت أشد منهن تصديقا بكتاب الله ولا إيمانا بالتنزيل ، وهو دليل واضح على أنهن فهمن لزوم ستر الوجوه من قوله تعالى : وليضربن بخمرهن على جيوبهنمن تصديقهن بكتاب الله وإيمانهن بتنزيله ، وهو صريح في أن احتجاب النساء عن الرجال وسترهن وجوههن تصديق بكتاب الله وإيمان بتنزيله كما ترى ، فالعجب كل العجب ممن يدعي من المنتسبين للعلم أنه لم يرد في الكتاب ولا السنة ما يدل على ستر المرأة وجهها عن الأجانب ،‍ مع أن الصحابيات فعلن ذلك ممتثلات أمر الله في كتابه إيمانا بتنزيله ، ومعنى هذا ثابت في الصحيح كما تقدم عن البخاري ، وهذا من أعظم الأدلة وأصرحها في لزوم الحجاب لجميع نساء المسلمين كما ترى " . " أضواء البيان ( 6 / 594 – 595 ) .


2. عن عائشة أن أزواج النبي صلى الله عليه وسلم كنَّ يخرجن بالليل إذا تبرزن إلى المناصع ( أماكن معروفة من ناحية البقيع ) فكان عمر يقول للنبي صلى الله عليه وسلم : احجب نساءك ، فلم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم يفعل ، فخرجت سودة بنت زمعة زوج النبي صلى الله عليه وسلم ليلة من الليالي عشاء - وكانت امرأة طويلة - فناداها عمر : ألا قد عرفناك يا سودة ، حرصاً على أن ينزل الحجاب ، فأنزل الله آية الحجاب . رواه البخاري ( 146 ) ومسلم ( 2170 ) .


3. عن ابن شهاب أن أنسا قال : أنا أعلم الناس بالحجاب كان أبي بن كعب يسألني عنه : أصبح رسول الله صلى الله عليه وسلم عروساً بزينب بنت جحش وكان تزوجها بالمدينة فدعا الناس للطعام بعد ارتفاع النهار فجلس رسول الله صلى الله عليه وسلم وجلس معه رجال بعد ما قام القوم حتى قام رسول الله صلى الله عليه وسلم فمشى ومشيت معه حتى بلغ باب حجرة عائشة ثم ظن أنهم خرجوا فرجعت معه فإذا هم جلوس مكانهم فرجع ورجعت معه الثانية حتى بلغ باب حجرة عائشة فرجع ورجعت معه فإذا هم قد قاموا فضرب بيني وبينه سترا وأنزل الحجاب . رواه البخاري ( 5149 ) ومسلم ( 1428 ) .


4. عن عروة أن عائشة قالت : لقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي الفجر فيشهد معه نساء من المؤمنات متلفعات في مروطهن ثم يرجعن إلى بيوتهن ما يعرفهن أحد . رواه البخاري ( 365 ) ومسلم ( 645 ) .


5. وعن عائشة رضي الله عنها قالت : كان الركبان يمرون بنا ونحن مع رسول الله صلى الله عليه وسلم مُحْرِمات ، فإذا حاذوا بنا أسدلت إحدانا جلبابها من رأسها على وجهها ، فإذا جاوزونا كشفناه . رواه أبو داود ( 1833 ) وابن ماجه ( 2935 ) ، وصححه ابن خزيمة ( 4 / 203 ) . وصححه الألباني في كتاب جلباب المرأة المسلمة .


6. وعن أسماء بنت أبى بكر رضي الله عنهما قالت : كنا نُغطِّي وجوهنا من الرجال ، وكنَّا نمتشط قبل ذلك في الإحرام . رواه ابن خزيمة ( 4 / 203 ) ، والحاكم ( 1 / 624 ) وصححه ووافقه الذهبي . وصححه الألباني في كتاب جلباب المرأة المسلمة


7. وعن عاصم الأحول قال : كنا ندخل على حفصة بنت سيرين وقد جعلت الجلباب هكذا : وتنقبت به ، فنقول لها : رَحِمَكِ الله قال الله تعالى : ( وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللاَّتِي لاَ يَرْجُونَ نِكَاحاً فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ ) ، قال : فتقول لنا : أي شئ بعد ذلك ؟ فنقول : ( وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ ) فتقول : هو إثبات الحجاب . رواه البيهقي ( 7 / 93 ) .

Rabu, 15 Mei 2019

Wafatnya Sayyidatuna Khodijah Al Kubro

Siti Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun

Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,

Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.

Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dawah Islam sepenuhnya, jawab Rasulullah

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,

Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.

Mendengar itu Rasulullah berkata,

Wahai Khadijah, ALLAH menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga
.
Ummul mukminin, Siti Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didakapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu
.
Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya,

Untuk siapa kain kafan itu, ya Jibril?

Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan jawab Jibril. Jibril berhenti berkata dan kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, Kenapa, ya Jibril?

Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dipenggal dan gugur syahid tanpa kafan dan tak dimandikan sahut Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah,

Wahai Khadijah isteriku sayang, demi ALLAH, aku takkan pernah mendapatkan isteri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. ALLAH maha mengetahui semua amalanmu. "Semua hartamu kau infaqkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. "Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?"

Sumber: Kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani

Senin, 04 Maret 2019

ILMU

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

ILMU

Manusia itu sesungguhnya mati,
kecuali yang berilmu,

Yang berilmupun  tertidur,
kecuali yang mengamalkan ilmunya,

Dan yang mengamalkanya pun tertipu,
kecuali yang Ikhlas.

maka, ingatlah
janganlah Sampe Tertipu
walaupun,
penipuan yang tidak disadari.

Allah Ta'ala berfirman:
Katakanlah:‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’
(QS. 18:103)

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
(QS. 18:104)

Semoga kita senantiasa ditunjuk Allah Ta'ala sebagai Hamba Terpilih dg surga sebagai hadiahnya, Aamiin

Selasa, 26 Februari 2019

Kenapa ada Perbedaan


Perbedaan adalah warna dalam kehidupan di Dunia ini yang berfungsi diantaranya sebagai salah satu ujian yang ada pada kehidupan sebagaimana Allah Subhanahu Wata’la berfirman:
الَذِيْ خَلَق الْموْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا (الملك – ٢)
“ (Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji (siapa diantara) kalian yang paling baik perbuatannya “ (Al-Mulk – 2).
Perbedaan ada bermacam-macam bentuknya, seperti; berbeda agama, berbeda keyakinan, berbeda adat, berbeda pendapat dan pemikiran. Tidak semua perbedaan adalah ujian ada diantara yang berupa Rohmah (bentuk kasih sayang syariat islam bagi pemeluknya untuk mempermudah dalam menjalankan kehidupan) sebagaimana Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِخْتِلَافُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ (رواه البيقي)
“ Perbedaan (pendapat Ulama’ dalam beberapa hukum) Ummatku adalah Rahmat “
Dan yang akan kita bahasa dalam tulisan ini adalah perbedaan pendapat atau pemikiran. Perbedaan pendapat terjadi karena beberapa sebab seperti; Rasulullah menyampaikan Hadits yang berbeda dalam satu masalah dikarenakan Rasulullah melihat keadaan orang yang bertanya atau keadaan tempat dan waktu (situasi kondisi) disaat Rasulullah menyampaikan Hadits. Maka dari situ para Ulama’-pun berbeda pendapat karena Hadits yang mereka terima dan mereka sampaikan berbeda menyesuaikan situasi kondisi. Oleh karenanya betapa pentingnya peran seorang guru, dan betapa pentingnya orang tua memilihkan guru maupun tempat pendidikan yang sesuai bagi anaknya karena hal tersebut akan berpengaruh kepada karakter anak.
            Perbedaan pendapat dalam Hukum Syar’i biasanya terdapat pada hal-hal Ibadah Sunnah, Hukum Cabang (bukan pokok seperti solat 5 waktu), cara melakukan suatu ibadah, atau berada pada keseharian suatu masyarakat muslim ditempat tertentu. Tidak jarang kita menemukan perbedaan pendapat seseorang maupun cara berpikir/pandangannya, yang biasanya karena dipengaruhi pendapat gurunya, dan hal tersebut sekali lagi bisa mempengaruhi karakter seseorang, karena tidak salah jika seorang murid berpegang dan mengikuti pendapat gurunya.
            Karakter seseorang biasanya dipengaruhi oleh: 1) Orang Tua; oleh karena itu para ulama sangat menjaga akan memilih siapa calon orang tua bagi anaknya, karena orang tua terutama ibu akan sangat mempengaruhi karakter (cara berpikir, pandangan dan berpendapat) seorang anak[1]. 2) Lingkungan; pengaruh lingkungan (tetangga, teman[2]) akan saat membentuk karakter anak-anak di masa pembelajaran (MI, MTs, MA, Pesantren). 3) Guru; dalam hal ini pendapat seseorang, cara berpikir atau memandang sesuatu sangat dipengaruhi, karena ilmu/pengetahuan bersumber dari apa yang disampaikan gurunya, maka pendapat guru sangat berperan besar akan bagaimana seseorang memutuskan atau mengikuti pendapat akan sesuatu, dalam hal ini para ulama’ salaf selalu mengingatkan kita agar berhati-hati untuk memilih guru bagi putra-putri kita, karena bisa jadi mereka akan bersebrangan dengan kita atau jalan Rasulullah disebabkan pendapat gurunya[3].
            Dan jika kita mendapatkan adanya perbedaan pendapat dengan kita, maka terlebih dahulu kita kenali dalam hal apa perbedaan tersebut, jika dalam hal yang biasanya berbeda (seperti yang sebelumnya sudah disebut) dan bukan Hukum Pokok (seperti Solat 5 waktu) maka biarkan saja, atau jika Hukum itu memang bukan pokok tapi berkaitan dengan kehidupan sosial tapi bisa mempengaruhi kemaslahatan Rakyat atau Islam maka kita harus menjelaskan pendapat yang lebih cocok dan lebih benar dengan beberapa alasan Rasio dan Dalil.
Dan ingat kewajiban kita hanya menyampaikan bukan merubah pendapat atau cara berpikir seseorang terlebih jika bisa menimbulkan perpecahan Wal’iyaadzubillah, sebagaimana Allah berfirman:
وَمَا عَلَيْنَا عَلَيْنَا إَلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ (يس – ١٧)
Dari ayat tersebut menghasilkan sebuah pemahaman bahwa kewajiban kita hanya menyampaikan yang menurut kita yakin benar dan harus disampaikan demi kemaslahatan bersama dan bukan untuk merubah seseorang, karena yang bisa merubah seseorang hanya Allah Subhanahu Wata’ala Hidayah berada pada kekuasaan dan kehendakannya, sedangkan kita hanya perantara saja. Dan dalam menyampaikan pendapat jangan sampai kita merasa paling benar dan menyampaikan dengan Hawa Nafsu (emosi) bukan Ikhlas karena Allah, sehingga ketika pendapat kita tidak diterima kita tidak marah atau benci, karena kita hanya berusaha peduli dan mengingatkan sebagai kewajiban saudara sesama muslim.


[1] Lebih detailnya silahkan bisa dibaca dalam buku “Anakku Investasi Akhiratku” Karya: Dr. Habib Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I (Rektor IAI DALWA dan Pengasuh Ponpes. Putri DALWA – Bangil Pasuruan Jatim)
[2] Bahkan pengaruh ini juga besar dan berpengaruh juga pada keberhasilan seorang siswa atau santri, sebagaimana Imam Syafii berkata dalam syairnya:
عَنِ الْمَرْءِ لَاتَسْأَلْ فَاسْألْ قَرِيْنَهُ # فَإِنَّ الْقَرِيْنَ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِى
“jika kita tau tentang seseorang tidak perlu bertanya langsung padanya # cukup lihat siapa temannya karena seseorang tidak akan jauh beda dengan temannya”
[3] Bahkan sampai ada kata-kata
لَوْلَ الْمُرَبِّيْ  مَاعَرَفْتُ رَبِّيْ
“kalau bukan karena guru aku tidak akan tahu tuhanku”
Lihat bagaimana pengatahuan tentang tuhan saja disandarkan kepada guru

Selasa, 08 Januari 2019

Syair Imam Syfi'i tentang menuntu ilmu

*ﺍﺻﺒﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﺮ ﺍﻟﺠﻔﺎ ﻣﻦ ﻣﻌﻠﻢ*
*ﻓﺈﻥ ﺭﺳﻮﺏ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﻧﻔﺮﺍﺗﻪ*
*ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺬﻕ ﻣﺮ ﺍﻟﺘﻌﻠﻢ ﺳﺎﻋﺔ*
*ﺗﺠﺮﻉ ﺫﻝ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻃﻮﻝ ﺣﻴﺎﺗﻪ*
*ﻭﻣﻦ ﻓﺎﺗﻪ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻢ ﻭﻗﺖ ﺷﺒﺎﺑﻪ*
*ﻓﻜﺒﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺭﺑﻌﺎ ﻟﻮﻓﺎﺗﻪ*
*ﻭﺫﺍﺕ ﺍﻟﻔﺘﻰ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﺘﻘﻰ*
*ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻮﻧﺎ ﻻﻋﺘﺒﺎﺭ ﻟﺬﺍﺗﻪ*
*ﻓﻘﻴﻬﺎً ﻭﺻﻮﻓﻴﺎً ﻓﻜﻦ ﻟﻴﺲ ﻭﺍﺣﺪﺍ*
*ﻓﺈﻧــﻲ ﻭﺣـﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻳـﺎﻙ ﺃﻧﺼﺢ*
*ﻓﺬﻟﻚ ﻗﺎﺱ ﻟﻢ ﻳﺬﻕ ﻗﻠﺒﻪ ﺗﻘــﻰ*
*ﻭﻫﺬﺍ ﺟﻬﻮﻝ ﻛﻴﻒ ﺫﻭ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻳﺼﻠﺢ*
*ﺇﻥ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﻫـﻮ ﺍﻟﻔﻘﻴـﻪ ﺑﻔﻌﻠـﻪ*
*ﻟﻴﺲ ﺍﻟﻔﻘﻴـﻪ ﺑﻨﻄﻘـﻪ ﻭﻣﻘﺎﻟـﻪ*
*ﻭﻛﺬﺍ ﺍﻟﺮﺋﻴﺲ ﻫﻮ ﺍﻟﺮﺋﻴﺲ ﺑـﺨﻠﻘﻪ*
*ﻟﻴﺲ ﺍﻟﺮﺋﻴﺲ ﺑﻘﻮﻣﻪ ﻭﺭﺟﺎﻟـﻪ*
*ﻭﻛﺬﺍ ﺍﻟﻐﻨـﻲ ﻫﻮ ﺍﻟﻐﻨﻲ ﺑﺤﺎﻟــﻪ*
*ﻟﻴﺲ ﺍﻟﻐﻨـﻲ ﺑﻤﻠﻜـﻪ ﻭﺑﻤﺎﻟـﻪ*

_Syair imam Syafii ;_
_Bersabarlah atas pedihnya kekerasan pengajar_
_Karena sesungguhnya kekokohan ilmu itu berada pada kesulitannya_
_Barang siapa tidak mencicipi pahitnya belajar walau sebentar ia akan menelan kehinaan sepanjang hayatnya_
_Barang siapa melewatkan belajar di masa mudanya maka bertakbirlah empat kali karena kematiannya_
_Demi Allah, hidup seorang pemuda itu tergantung ilmu dan takwa_
_Jika keduanya tidak ada, keberadaannya tidak dianggap_
_Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang bertasawwuf jangan jadi salah satunya_
_Sungguh dengan haq Allah, aku menasehatimu._
_Jika kamu menjadi ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras tak akan merasakan nikmatnya taqwa_
_Dan jka kamu menjadi yang kedua saja, maka sungguh dia orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik._
_Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah dinilai dengan perbuatannya_
_Bukanlah orang yang faqih itu dinilai dengan ucapan dan perkataannya._
_Begitu juga pemimpin itu adalah dinilai dengan kemuliaan akhlaknya_
_Bukanlah pemimpin itu dinilai dengan banyaknya pengikut dan pembela-pembelanya._
_Begitu juga orang yang kaya itu adalah dinilai dengan keadaan (kedermawanan)nya_
_Bukanlah orang yang kaya itu dinilai dengan banyaknya harta bendanya._