Sumber daya manusia di Indonesia terbilang rendah, bahkan digadang-gadang tertinggal lima puluh tahun dibandingkan negara maju, bukan tanpa alasan melainkan sebab bad character atau toxic personality yang sudah menjamur, diantaranya:
1. Lebih suka bermain dibandingkan belajar
Sudah menjadi rahasia umum, masyarakat Indonesia saat ini tidak tahu/tidak peduli mana yang benar mana yang salah (reason and lesson), kalau salah satu hal lagi heboh semua orang mengikuti dan menjadikan tranding trend tanpa memandang baik buruknya (typical fomo).
Masyarakat tengah mengidap melicious joy atau schadenfreude (teori psikologis); Kebahagiaan yang didapat dari kejadian yang lucu, kesulitan atau kemalangan orang lain. Dampak negatif dari trend ini adalah munculnya (iri) pemikiran: “kenapa cuma gitu aja bisa trend? Dapet duit”, akhirnya masyarakat akan berlomba-lomba untuk lebih parah lagi
Fenomena ini juga bermain di ranah psikologi masyarakat dengan memanfaatkan rasa simpati dan empati; Sebab kasian, care, atau lucu muncul simpati kita, dan itu terjadi (orang bisa simpati dan empati pada hal itu) karena ada hormon dalam otak manusia yang mengganggu rasa simpati dan mengganggu rasa empati. Hormon ini disebut; Hypothalamic Neuropeptides Oxytocin, oxytocin adalah hormon cinta, hormon bahagia ketika melihat sesuatu yang bersifat ediktif, dan alur ini yang menjadikan “make stupid people famous”.
Islam memandang fenomena ini sebagai:
عَنِ الْإمَامِ الْغَزَّالِي (في أيها الولد), مِنْ عَلَامَةِ إعْرَاضِ اللهِ تَعَالَى عَنِ الْعَبْدِ اشْتِغَالُهُ بِمَا لَا يَعْنِيْهِ. مُوَافِقٌ بِمَا جَاءَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلّم : (مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَيَعْنِيْهِ) حَدِيْثٌ حَسَنٌ، رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا.
Seseorang yang lebih suka melakukan hal-hal tidak penting (karena iseng atau sebab sepele lain), menunjukkan bahwa karakternya tidak baik dan Allah Subhanahu Wata’ala berpaling/tidak lagi peduli kepadanya.
2. Lebih suka merusak dibandingkan membangun atau menjaga
Fokus mayoritas masyarakat Indonesia saat ini lebih condong kepada kritik dibandingkan apresiasi, semisal ada individu atau instansi yang memiliki kelebihan dan kekurangan, kita bisa melihat respon netizen akan lebih kepada kekurangannya dibandingkan kelebihannya.
Potongan informasi dari sosial media lebih dipercaya dibandingkan informan kredibel atau melakukan konfirmasi (tabayyun), sikap terburu-buru dalam menghakimi menunjukkan bad character atau toxic personalty yang menjadi sebab utama rendahnya sumber daya manusia kita.
Feodalisme ideologi, adalah orang-orang yang lebih menghargai status sosial berdasarkan kekayaan atau kekuasaan seperti artis sosmed yang diikuti sebab popularitas, subscriber, dibandingkan kredibilitasnya.
عَن أبي هُرَيرةَ رَضِيَ الله عَنه أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ (رواه البخاري : ٦٤۹٦)
Apabila suatu perkara diberikan kepada (dibahas oleh) yang bukan pakarnya (tidak kredibel) maka pasti akan menyebabkan kerusakan.
Feodalisme adalah sistem sosial, politik, dan ekonomi. Diambil dari kata Feodum yang berarti tanah sebagai sumber kekayaan, sederhananya feodalisme adalah sistem hierarki yang kaku (pemaksaan atau pemerasan) berdasarkan status sosial dari kekayaan atau kekuasaan.
Melawan sumber daya manusia rendah harus dengan cara memberi kesadaran akan pentingnya ilmu (kegiatan belajar mengajar), memilih dan memilah informasi, menghargai kredibilitas dibandingkan status sosial. Memberi kesadaran tidak bisa dengan sebatas mengajar, harus ada proses mendidik dan keteladanan.
Keteladan berarti pendidik melakukan, membiasakan, dan memberikan contoh, kemudian peserta didik diminta untuk melakukan dan membiasakan seperti yang dicontohkan, dalam ranah etika sosial (sopan santun) terkadang pendidik perlu memerintah atau bahkan memaksa peserta didik, karena tidak mudah untuk memiliki kebiasaan atau menanamkan etika baik menjadi karakter, meskipun terkesan ada hierarki status sosial, atau paksaan, tetap tidak bisa disebut praktek feodalisme apalagi perbudakan, karena dasarnya adalah ilmu dan peserta didik tetap memiliki kebebasan.
Agar lebih mudah untuk memahami feodalisme, bisa kita pelajari dari sisi epistimologi bahasa Arab الإقْطَاعِيَّة yang berasal dari suku kata قَطَعَ dan memiliki arti memutus atau memotong, sebab feodalisme berarti memotong Humanity menjadi kasta rendah dan tinggi.
Menghormati berlebihan? Tidak ada kata berlebihan bagi orang tua termasuk guru yang sangat berjasa mendidik, membesarkan, dan membentuk karakter kita, mungkin bagi sebagian orang berlebihan, tapi bisa jadi bagi yang lainnya sepadan, sebab semua itu tergantung seberapa besar jasa orang tua dan gurumu kepadamu, tentu setiap orang pasti memberi dan menerima dengan skala yang berbeda, tapi bagi Muslim pelajari Tafsir Surah al-Isra’ ayat 23-24, kalian akan mendapatkan penjelasan bahwa “kita harus menghormati dan berbakti kepada orang tua dan guru semaksimal mungkin dengan cara apapun”.
Penutup, tulisan ini tidak menafikan oknum yang mencoreng nama baik pesantren dan tindakan tidak terpuji lainnya, namun kita harus moderat dan bijak dengan tidak memukul rata bahwa semua pesantren sama hanya karena sebagian melakukan kesalahan.
“apabila tanganmu terluka cukup obati bagian yang luka, tidak perlu memotongnya”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar