Rabu, 22 Oktober 2025

KORELASI ZAMAN RASULULLAH DAN AKHIR ZAMAN

Rasulullah bersabda:
عَنْ أبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: بَدَأَ الإسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كما بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ (رواه المسلم ١٤٥)
Awal mulanya Islam dipandang aneh (penuh cacian), dan kelak akan kembali seperti awal mula dipandang aneh lagi, maka beruntung orang-orang yang (dicaci) dianggap aneh
KOMPARASI:
1- Pribumi
a) Zaman Rasulullah: di saat beliau hijrah ke Madinah, sebagian pemuka Yatsrib memusuhi dan menolak Rasulullah, di antaranya Huyay bin Akhtab berkata: kenapa kita yang orang Yatsrib harus diperintah orang luar!
b) Zaman sekarang: kita membaca sejarah bahwa penjajah di Indonesia adalah belanda dan jepang, tapi rakyat kita meneriaki sebagian rakyat Indonesia lainnya: pulang dan kembali ke Yaman.
2- Mendadak Faham
a) Zaman Rasulullah: Huyay bin Akhtab dan Ka’ab bin Asad, menyampaikan pemahaman Taurat versi mereka untuk mendustakan Rasulullah, kemudian salah satu Rabi bernama Mukhairiq menyela: aku lebih faham agama dan lebih banyak membaca Taurat, aku mengakui kebenaran Muhammad, sedangkan kau seolah-olah lebih faham dariku hari ini.
b) Zaman sekarang: kita bisa lihat orang-orang yang tidak bisa bahasa arab, tidak bisa membaca kitab, tidak pernah di pesantren, mendadak jadi ahli al-Qur’an dan Hadits, kemudian mengkritik para ulama’ yang dalam segi keilmuan tidak bisa dibandingkan dengan mereka.
3- Ahli Sunnah
a) Zaman Rasulullah: Abdullah bin Ubay bin Salul pernah mengkritik Rasulullah soal etika/cara pembangunan Masjid Quba, dan dia malah membangun Masjid Dirar untuk tujuan makar dan adu domba yang pada akhirnya dihancurkan. Dia merasa lebih faham tentang tujuan pembangunan Masjid dibandingkan Rasulullah.
b) Zaman sekarang: kita bisa lihat orang-orang yang tidak faham al-Qur’an, jarang menghatamkan al-Qur’an atau bahkan tidak bisa membacanya, tiba-tiba berbicara tentang Sunnah yang benar dan menyalahkan tradisi ulama’ atau pesantren yang telah menghafal dan mengamalkan al-Qur’an. Orang-orang yang jarang Sholat Sunnah atau bahkan Sholat Wajib, tiba-tiba merendahkan ulama’ yang telah mengajari ratusan bahkan ribuan orang untuk Sholat.
4- Doktrin Perbudakan
a) Zaman Rasulullah: di saat Sahabat Umair bin Wahab ingin masuk Islam setelah perang Badar dan saat putranya menjadi tawanan muslim pasca perang badar, Abu Sufyan, Safwan bin Rabiah dan kafir Quraisy lainnya berkata: kau sudah kena doktrin dan sama bodohnya seperti Sahabat Muhammad, kau hanya akan dimanfaatkan dan diperbudak untuk kejayaannya saja.
b) Zaman sekarang: di saat pesantren dan para kyainya telah mencetak orang-orang beradab dan berilmu dari generasi ke generasi, mereka dituduh melakukan praktek feodalisme di saat orang yang dididiknya ingin membalas jasa dengan cara mereka, Lebih parah lagi, saat para kyai dan santrinya pernah berjuang demi Indonesia di zaman penjajahan, sekarang mereka diteriaki tidak berguna dan lebih baik ditutup saja. Tuduhan pengayaan diri juga dilontarkan di saat pesantren sebagai lembaga mandiri tidak jarang membebaskan biaya santrinya.
5- Karomah Keberkahan
a) Zaman Rasulullah: Abu Jahal dan teman-temannya pernah ingin mendatangi Rasulullah untuk meminta beliau menunjukkan mukjizat di muka umum, namun di jalan mereka bertemu Sayyidina Umar bin Khattab dan beliau berkata: memangnya kalau kamu melihat mukjizat akan percaya padanya? Pastinya kamu akan mengatakan itu sihir. Bukankah kamu tahu cerita Musa membelah lautan, tapi apakah kamu Yahudi? Tidak bukan! Itu semua hanya akal-akal kalian, padahal kalian hanya ingin mencari-cari alasan, bukan mencari kebenaran. Sama halnya Fir’aun dan musuh-musuh Nabi lainnya, setelah mereka melihat mukjizat para Nabi bukan menambah keyakinan mereka melainkan mencari bahan cacian lainya.
b) Zaman sekarang: Karomah dinilai Khurafat, Keberkahan dinilai kebohohan, santri sederhana dibilang tidak punya masa depan, Kyai mapan dibilang jual agama, ceramah tegas dituduh intoleran, ceramah dagelan mintanya kembali ke al-Qur’an. Inti dari semua itu satu, apapun yang dilakukan para kyai da santri dipandang salah, karena mereka mencari kesalahan bukan kebenaran. Fakta dan Data lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar